Sejak hari Jumat sudah aku rencanakan untuk tetap berangkat ke sekolah baru siangnya jalan ke stasiun Pasar Senen (PSE). Pagi belajar seperti biasa di kelas, istirahat, masuk lagi sampe jam kegiatan pramuka dimulai. Usai pramuka selesai, sebagai perempuan sekolahan mulai sepi, mulai deh ngrumpi sana sini, sampe jam 13.30. Belum solat dhuhur pula. Langsung deh pulang ke kosan, sampai kosan langsung solat, packing seadanya, pesen grab berangkat. Dan ini sudah pukul 2.30 pm.
Aku cek dulu lah estimasi ke stasiun PSE di google. Semua astimasi nggak ada yang menunjukkan perjalanan kurang dari 1 atau setengah jam. Pesimislah aku. Pikirku grab bike akan lebih cepat sampai. Aku cek, harganya 60k. "Gapapa yang penting sampai", lalu aku book, segera dapat driver, tapi setelah aku turun dari kosan, grabnya udah tercancel. Aku segera berpikir keras. "Kecepatan kreta jauh lebih cepet kan dari motor",batinku. Aku pesan saja grab bike ke stasiun, terus naik KRL. Waktuku tinggal 15 menit lagi untuk bisa cetak tiket dan naik kreta ke Kediri. KRL yang datang jurusan Jakarta Kota, tetap aku naik saja, "Bisa turun di Manggarai nanti, terus naik grab lagi. Pokoknya aku akan coba biar bisa sampai sana, siapa atau kretanya delay beberapa jam, jad aku bisa naik walaupun telat lama", pikirku.
Bersyukurlah dengan bawa tas yang berat, KRL ke Jakarta Kota lengang, jadi bisa duduk, dan bebas beban fisik, tapi pikiran hati masih terbebani bagaimana kalo ketinggalan kreta. Sambil aku cek berkali-kali estimasi samapi ke stasiun PSE tetap saja sekitar 1 jam lebih. Selain itu aku juga searching, siapa tau ada yang puny pengalaman ketinggalan kreta juga, dan searching juga gimana mengcancel tiket kreta. Ternyata nggak ada satu info pun yang memberi secercah harapan untukku. Huft. Sampai-sampai baterai HPku mulai menipis 20% kayanya. Sampai di Manggarai aku langsung keluar dan pesen grab bike menuju ke Stasiun PSE. Aku kira deket Manggarai ke PSE ternyata ada 20an menit. Jadi sampai di stasiun PSE kurang lebih jam 4 pm. Aku masih optimis tuh. Aku berjalan lebih cepat menuju ke mesin cetak tiket melewati spot boarding pass. Boarding pass yang dibuka ternyata hanya untuk kreta pemberangkatan pukul 5 pm. Tapi tetap saja aku ke mesin cetak tiket, lalu aku masukkan kode yang ada di email. Jeng....jeng....jeng. GAGAL. Kode yang Anda masukkan tidak valid. Huuaaaah, rasanya, oke deh kalo ini gk bisa, aku coba cetak tiket kreta Kediri-Kutoarjo. Ternyata bisa. Berarti memang tiket kreta ke Kediri yang aku pesan hangus. Oke deh.
Tiba-tiba aku ingat kalo stasiun PSE juga dekat dengan terminal PSE, tapi di sebelah mana? Aku harus jalan ke sebelah mana nih? Aku tanya pak satpam, dan ditunjukkan arahnya. Semakin semangat mencari terminal. Sesampainya di terminal, aku kaget, bingung, dan agak kecewa. Sepanjang koridor terminal nggak ada tulisan agen bus, justru ada penjual buku berderet-deret, dan warung makan. Aku masih saja penasaran, makanya aku telusuri sampai ujungnya. Sampai di ujung, ada ibu penjual kartu perdana, numpanglah aku biar bisa ngcas HP. Alhamdulillah diperbolehkan, tapi bayar.
Pikiranku masih kacau sih, bimbang mau cancel tiket kreta Kediri- Kutoarjo, atau tetap bergkt ke Kediri tapi ngbus. Tentu dengan biaya yang nggak sedikit. Aku coba terus berpikir, menelaah, "kalo nggak sekarang aku ambil kesempatan ini, kapan lagi aku bisa? batch berikutnya? Masih lama lagi. Lagi pula apa kamu nggak mau hijrah tahun ini? Belum lagi udah bilang orang tua mau lebaran di rumah. Kalo aku balik ke Depok, semua gampang sih, tinggal cancel tiket kreta Kediri-Kutoarjo, uangku bisa kembali walaupun nggak 100%. Tapi aku akan diketawain sama mereka yang tau kalo aku mau ke Kediri. Dan aku akan pensaran sepanjang tahun ini kalo aku nggak berangkat sekarang. Lagi pula tadi aku sudah ambil uang, aku rasa gapapa mengeluarkan uang lagi buat ke sana."Sambil HP dicas aku buka grab mencari agen bus di sekitar PSE yang terjangkau grab bike. Aku nggak menemukan. Aku tanya penjual yang meneydiakan cas HP, katanya "Di sini gak ada, adanya banyak di batargebang, tapi jauh", sedikit pesimis. Lalu aku buka di google, ternyata ada harapan, pool Damri. Aku cek dulu di grab, jauh atau nggak. Ternyata nggak terlalu jauh. Langsung aku booking. Dan driver segera meluncur. Jalanan agak macet, tapi sang driver tahu jalan pintas, jadi nggak masalah. Sampai di pool Damri,"Hati-hati pulangnya neng", kata drivernya. "Ya bang, makasih", padahal dalam hati, "Iya bang, tapi saya belum tentu jadi pulang bang. Semoga aja ada tiket ke kediri".
Sampai di loket Damri, tanya jurusan Jawa Timur atau Kediri, ternyata nggak ada."Paling Solo mbak,Rp 130.000". "Solo itu mananya Kediri lagi, jauh nggak ya, Rp130.000 pula, lumayan, ntar nyambung lagi berapa ribu juga. Aduuh, gimana ya?", batinku. Aku liat google, aku hitung biaya bus secara kasar, aku rasa uangku cukup. Oke, "Pak Solo 1, hari ini". Kata petugasnya berangkat jam 7 pm. Masih lama, sekarang baru jam 5 pm. Gapapa, lanjut ngcas, dan searching rencana perjalanan setalah dari Solo.
Pukul 20.00 win bus damri tujuan Solo baru berjalan. Sepanjang perjalanan ada rasa haru aku masih diberi kesempatan pergi ke pare walaupun masih harus melalui perjalanan panjang. Ada jug rasa cemas dan harap bersatu. Cemas, takut, dan khawatir gimana kalau nggak ada bus ke Kediri, gimana bus di Jawa Timur apakah Aman, atau menyeramkan. Tapi ada juga harap kepada Sang Pemberi Harapan. Hanya kepadanya aku berharap selamat sampai Pare, bisa mengikuti tes seleksi dengan lancar, dan lolos TC.