Minggu, 18 Agustus 2019

Morning Booster

Pergi tidur jam 12.44 wib menyisakan lampu tidur warna-warni di kamar 6. Pukul 04.06 wib tiba-tiba terbangun. "Ahhh masih ngantuk...!" Karena semalam sudah membuat jurnal tracking ibadah, masih ngantuk pun jadi ingin bangun, wudhu, dan solat tahajud biar jurnal gk kosong dong (ini ujub atau bukan ya?).
Sampai akhirnya adzan subur terdengar. Setelah subuh aku sempatkan memejamkan mata barang beberapa menit saja untuk menghilangkan kantuk, bahkan dalam kondisi mukena lengkap terpakai dan di atas sajadah (jangan di contoh ya). 
Berhasilah kantuk itu terusir. Segeralah bersiap ke aula untuk briefing pertama kami. Diawali dengan doa, dan dilanjut dengan hunting class GE. Kami diperkenalkan kelas-kelas yang dimiliki GE, belum semua sih, tapi sebagian besar kami kunjungi. Dengan suasana pagi yang masih sepi dan dingin khas Pare.
Di akhir orientasi kelas-kelas ada sedikit speech dari Ms. Rindu. Yang paling terngiang di telingaku saat ini adalah "Kalian adalah yang terpilih, banyak yang menginginkan jadi seperti Kalian, so jangan kecewakan kami yang memilihmu dan jangan kecewakan mereka yang tak terpilih seperti kalian." Jadi jangan egois lah, maksimalkan program yang kamu miliki saat ini. Your house is your home, keep sharing and caring. Fighting to become brighter teacher!!!

Tertinggal di PSE

Sejak hari Jumat sudah aku rencanakan untuk tetap berangkat ke sekolah baru siangnya jalan ke stasiun Pasar Senen (PSE). Pagi belajar seperti biasa di kelas, istirahat, masuk lagi sampe jam kegiatan pramuka dimulai. Usai pramuka selesai, sebagai perempuan sekolahan mulai sepi, mulai deh ngrumpi sana sini, sampe jam 13.30. Belum solat dhuhur pula. Langsung deh pulang ke kosan, sampai kosan langsung solat, packing seadanya, pesen grab berangkat. Dan ini sudah pukul 2.30 pm.
Aku cek dulu lah estimasi ke stasiun PSE di google. Semua astimasi nggak ada yang menunjukkan perjalanan kurang dari 1 atau setengah jam. Pesimislah aku. Pikirku grab bike akan lebih cepat sampai. Aku cek, harganya 60k. "Gapapa yang penting sampai", lalu aku book, segera dapat driver, tapi setelah aku turun dari kosan, grabnya udah tercancel. Aku segera berpikir keras. "Kecepatan kreta jauh lebih cepet kan dari motor",batinku. Aku pesan saja grab bike ke stasiun, terus naik KRL. Waktuku tinggal 15 menit lagi untuk bisa cetak tiket dan naik kreta ke Kediri. KRL yang datang jurusan Jakarta Kota, tetap aku naik saja, "Bisa turun di Manggarai nanti, terus naik grab lagi. Pokoknya aku akan coba biar bisa sampai sana, siapa atau kretanya delay beberapa jam, jad aku bisa naik walaupun telat lama", pikirku.
Bersyukurlah dengan bawa tas yang berat, KRL ke Jakarta Kota lengang, jadi bisa duduk, dan bebas beban fisik, tapi pikiran hati masih terbebani bagaimana kalo ketinggalan kreta. Sambil aku cek berkali-kali estimasi samapi ke stasiun PSE tetap saja sekitar 1 jam lebih. Selain itu aku juga searching, siapa tau ada yang puny pengalaman ketinggalan kreta juga, dan searching juga gimana mengcancel tiket kreta. Ternyata nggak ada satu info pun yang memberi secercah harapan untukku. Huft. Sampai-sampai baterai HPku mulai menipis 20% kayanya. Sampai di Manggarai aku langsung keluar dan pesen grab bike menuju ke Stasiun PSE. Aku kira deket Manggarai ke PSE ternyata ada 20an menit. Jadi sampai di stasiun PSE kurang lebih jam 4 pm. Aku masih optimis tuh. Aku berjalan lebih cepat menuju ke mesin cetak tiket melewati spot boarding pass. Boarding pass yang dibuka ternyata hanya untuk kreta pemberangkatan pukul 5 pm. Tapi tetap saja aku ke mesin cetak tiket, lalu aku masukkan kode yang ada di email. Jeng....jeng....jeng. GAGAL. Kode yang Anda masukkan tidak valid. Huuaaaah, rasanya, oke deh kalo ini gk bisa, aku coba cetak tiket kreta Kediri-Kutoarjo. Ternyata bisa. Berarti memang tiket kreta ke Kediri yang aku pesan hangus. Oke deh.
Tiba-tiba aku ingat kalo stasiun PSE juga dekat dengan terminal PSE, tapi di sebelah mana? Aku harus jalan ke sebelah mana nih? Aku tanya pak satpam, dan ditunjukkan arahnya. Semakin semangat mencari terminal. Sesampainya di terminal, aku kaget, bingung, dan agak kecewa. Sepanjang koridor terminal nggak ada tulisan agen bus, justru ada penjual buku berderet-deret, dan warung makan. Aku masih saja penasaran, makanya aku telusuri sampai ujungnya. Sampai di ujung, ada ibu penjual kartu perdana, numpanglah aku biar bisa ngcas HP. Alhamdulillah diperbolehkan, tapi bayar. 
Pikiranku masih kacau sih, bimbang mau cancel tiket kreta Kediri- Kutoarjo, atau tetap bergkt ke Kediri tapi ngbus. Tentu dengan biaya yang nggak sedikit. Aku coba terus berpikir, menelaah, "kalo nggak sekarang aku ambil kesempatan ini, kapan lagi aku bisa? batch berikutnya? Masih lama lagi. Lagi pula apa kamu nggak mau hijrah tahun ini? Belum lagi udah bilang orang tua mau lebaran di rumah. Kalo aku balik ke Depok, semua gampang sih, tinggal cancel tiket kreta Kediri-Kutoarjo, uangku bisa kembali walaupun nggak 100%. Tapi aku akan diketawain sama mereka yang tau kalo aku mau ke Kediri. Dan aku akan pensaran sepanjang tahun ini kalo aku nggak berangkat sekarang. Lagi pula tadi aku sudah ambil uang, aku rasa gapapa mengeluarkan uang lagi buat ke sana."Sambil HP dicas aku buka grab mencari agen bus di sekitar PSE yang terjangkau grab bike. Aku nggak menemukan. Aku tanya penjual yang meneydiakan cas HP, katanya "Di sini gak ada, adanya banyak di batargebang, tapi jauh", sedikit pesimis. Lalu aku buka di google, ternyata ada harapan, pool Damri. Aku cek dulu di grab, jauh atau nggak. Ternyata nggak terlalu jauh. Langsung aku booking. Dan driver segera meluncur. Jalanan agak macet, tapi sang driver tahu jalan pintas, jadi nggak masalah. Sampai di pool Damri,"Hati-hati pulangnya neng", kata drivernya. "Ya bang, makasih", padahal dalam hati, "Iya bang, tapi saya belum tentu jadi pulang bang. Semoga aja ada tiket ke kediri".
Sampai di loket Damri, tanya jurusan Jawa Timur atau Kediri, ternyata nggak ada."Paling Solo mbak,Rp 130.000". "Solo itu mananya Kediri lagi, jauh nggak ya, Rp130.000 pula, lumayan, ntar nyambung lagi berapa ribu juga. Aduuh, gimana ya?", batinku. Aku liat google, aku hitung biaya bus secara kasar, aku rasa uangku cukup. Oke, "Pak Solo 1, hari ini". Kata petugasnya berangkat jam 7 pm. Masih lama, sekarang baru jam 5 pm. Gapapa, lanjut ngcas, dan searching rencana perjalanan setalah dari Solo.
Pukul 20.00 win bus damri tujuan Solo baru berjalan. Sepanjang perjalanan ada rasa haru aku masih diberi kesempatan pergi ke pare walaupun masih harus melalui perjalanan panjang. Ada jug rasa cemas dan harap bersatu. Cemas, takut, dan khawatir gimana kalau nggak ada bus ke Kediri, gimana bus di Jawa Timur apakah Aman, atau menyeramkan. Tapi ada juga harap kepada Sang Pemberi Harapan. Hanya kepadanya aku berharap selamat sampai Pare, bisa mengikuti tes seleksi dengan lancar, dan lolos TC.


Minggu, 11 Agustus 2019

Coba Dulu, Hasil Urusan Nanti

Empat Juli 2019 pukul 21.08 muncullah sebuah broadcast di grup WA alumni IPA 2 sbb.
"Mohon Maaf Mengganggu.. Mohon di share, siapa tau ada kakak, adik, teman, sahabat atau kerabat yang membutuhkan Informasi beasiswa.

Global English Pare menyelenggarakan program “Teaching Clinic” yaitu sebuah progran beasiswa yang memberikan kesempatan bagi Generasi Muda untuk Belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare.

Adapun beasiswa ini mencakup biaya pendidikan dan biaya asrama selama 10 bulan.

Target dari program ini adalah Semua Peserta mampu mengajar Bahasa Inggris.

Besar harapan kami, program ini juga dapat mendukung teman-teman to do something for Indonesia dalam hal mencerdaskan Generasi Muda Indonesia.
Pendaftaran Kami Buka Sampai Dengan tanggal 2 Agustus 2019......"
diikuti link website program tersebut.
Empat hari kemudian, ketika aku dikantor sambil buka WA web, aku baca pelan-pelan broadcast dan websitenya. Wah menarik nih. Langsung aku daftar. Syaratnya melampirkan bukti screenshot follow instagram Global english dan bukti forwarding broadcast tersebut minimal ke 3 grup WA yang dimiliki.
Ini sebagai seleksi tahap satu atau disebut seleksi administrasi.
Terkadang aku menjadi orang yang tak banyak pertimbangan. Ketika itu menarik, ya itu akan aku ambil. Terlebih lagi beberapa hal di masa lalu yang belum sempat aku coba dan aku masih penasaran dengan hal itu. Aku menyesal mengapa dulu tak mencobanya. Maka saat ada kesempatan ini aku coba apply, urusan ketrima atau nggak urusan nanti.

Tanggal 18 Juli aku mendapatkan WA dari admin Global English, kalau aku lolos administrasi. Alhamdulillah ya, aku seneng juga lah 1 tahap terlewati. Di WA juga diberitahukan kalau tes tulis akan dilaksanakan tanggal 8 dan interview tanggal 9-10 Agustus. Bagi peserta yang akan tes tulis disediakan penginapan mulai tanggal 5-10 Agustus. Selain itu, diminta juga konfirmasi kehadiran melalui gform dan mendownload formulis pendaftaran yang berisi biodata diri termasuk pengalaman pendidikan nonformal, organisasi,dan kejuaraan. Serta uraian mengapa tertarik memilih TC, apa rencana setelah lulus dari TC, dan mengapa Anda layak diterima di TC. Terakhir diminta sertakan foto dan salinan identitas diri (KTP/Kartu pelajar/SIM/Paspor/dsb).
Langsung lah, konfirmasi, downoad formulir dan juga langsung aku buka website KAI aku cari kreta jurusan Pasar Senen (PSE) ke Kediri (KD) mulai tanggal 7,6, dan 5 Agustus dan dengan harga terjangkau tentunya. Aku mencari yang tanggalnya mepet tes aja, seperti tanggal 7, supaya pekerjaan di Depok nggak banyak yang aku tinggalin. Tetapi karena uang aku yang pas-pas saja, aku pilih kreta pemberangkatan tanggal 6 Agustus seharga Rp 109.000. Sadah lega dapat tiket berangkat, terus atur kira-kira izin kerjanya bagaimana, sambil berpikir pulangnya bagaimana.
Suatu hari ada remindr lagi untuk konfirmasi kehadiran mengikuti tes tulis. Dari situ aku lihat lagi tiket yang aku pesen dan mulai merancang rencana pulang balik kedepok, atau bagaimana. Karena tanggal 10 bertepatan dengan hari arafah yang keesokan harinya lebaran haji, aku memilih pulang ke Kebumen, bertemu keluarga, dan solat ied di sana juga. Mulailah mencari tiket KAI dari Kediri ke Kutoarjo. Aku mendapatkan kreta Kahuripan hari Sabtu, 10 Agustus 2019 pukul 13.13 wib harganya Rp 80.000.