Setelah 10 pertemuan di kelas, gk ku sangka kamu masih mengenaliku. Tak biasanya aku bisa menjalin/menarik seseorang untuk keep contact. Kamu sepertinya berbeda, pikirku. Saat itu aku ada jobdesk disana. Saat aku mau ke office tiba-tiba kamu bilang,"Hoi, dari jauh cakep lu, kirain siapa." Saat itu, aku anggap itu bercanda saja. Hari-hari berikutnya, hanya sekadar saling sapa, yang kurasa, itu wajar seperti sikapmu ke semua orang.
Pada tanggal 20 Januari lalu, kamu bilang lagi, "Hoi cantik juga kau kulihat dari sini", candamu dari seberang jalan dan dibalik mobil pick up putih. "Iya dari balik situ mah, tuh kan jadi fokus ke kamu, mau nyebrang nih", jawabku sambil berlalu meninggalkannya tanpa tahu apa ekspresi yang dia tampilkan. Namun, selama ini memang dia wajahnya datar aja, gk emosional. Ada 2 emosi baginya yang aku kenali: datar dan murung kaya orang sakit kurang gizi (ups, peace).
Aku suka begini nih membicarakan seseorang. Gak biasanya aku bisa memberi penialian ke orang lain begini. Khusus untuk ini jangankan menilai, kepikiran apalagi. Aku berpikir gimana karir dia, apa dia gk ingin lanjut kuliah atau sebagainya? Aku pun kepikiran kata temannya, dia begitu murung/gk jelas karena gagal nikah, apa ini benar? Sebegini detailnya aku jika ada orang yang membuatku kepedean. Atau dia memang fokus pada keluarganya? Di PP WA nya dia pasang foto ayah ibu di Tanah Suci, diakah yang membiayai itu? Wallohu a'lam.
Hari ini, aku kembali ke office. Sesampainya disana, adalah dia. Aku udah liat duluan sebenarnya, tapi aku jaim dan pura-pura gk peduli. "Hoi, gk rapat lu? Gw mah orang dalam santui", sapa dia. "Jelas-jelas aku datang ke office, ngapain kalo gk rapat bang", dalam hatiku. Aku ladenin aja itu candaan dengan,"Asyiap".
Sesampainya di ruang rapat,"Hoi" aja. Kami duduk cukup dekat, tapi dia lebih di belakang, jadi aku gk bisa liat gerak-geriknya. Sedikit tahu aja kalo dia keluar masuk ruangan. Bodo amat aja aku sih. Sampai rapat selesai kami keluar. Ternyata dia lagi tiduran di sofa luar ruangan, seperti biasa ekspresi orang sakit, murung, tak berdaya. Sewajarnya cewek, kepedeanku mencuat. Ketika aku keluar ruangan dan melihat dia, saat itu juga dia bangun dan senyum (tapi tetap datar, sangar dan gk ada manis-manisnya) sambil manggil seperti biasa, "Hoi, sini hoi, gw bilangin". Aku godain Aja,"Masuk tuh, pembagian jatah". Beberapa kali (2x doanh dong sih kayanya) memanggil, mau bilang sesuatu katanya. Dalam pikiranku, mau bilang apa juga nih orang, kita aja jarang berinteraksi, kenal pun karena kelas Grammar selama 10 pertemuan, gk pernah ngobrol intens juga. Mau ngomong apa lu? Aku berpikir sejenak, haruskah aku mendekat atau cuek aja? Aku akhirnya bergerak seakan ingin mendekati, tapi gk sampai. Melihat mukanya aku minder, dan beranggapan, "Ini cuma bercanda aja nih, liat aja ekspresinya." Tapi urusan hati siapa yang tahu?
___bersambung......
#Tim Proof Collector
Tidak ada komentar:
Posting Komentar